
Migrasi yang dirancang untuk gagal dengan aman
Setiap keputusan arsitektur punya jalur rollback. Kami memetakan risiko sebelum memindahkan satu workload pun.


Migrasi hybrid-cloud 47 node tanpa downtime terjadwal
Klien menjalankan infrastruktur on-premise selama sembilan tahun dengan ketergantungan silang yang tidak terdokumentasi. Kami mulai dari dependency mapping, bukan dari target state.
Setiap fase migrasi punya kriteria abort yang tertulis—bukan kebijaksanaan tim, melainkan threshold terukur yang memicu rollback otomatis sebelum window produksi terpengaruh.
Hasil: seluruh 47 node berpindah dalam tiga window malam berturut-turut. Nol insiden produksi. Throughput meningkat 2,4× pada beban puncak.


Angka dari deployment, bukan proyeksi
Benchmark throughput, delta biaya, dan window downtime dicatat dari sistem produksi aktual—bukan lingkungan staging.
2,4× throughput pada beban puncak
Diukur pada window produksi hari ke-7 pasca cutover. Baseline dari 6 bulan log sebelum migrasi.
0 menit downtime tak terjadwal
31% penghematan biaya infrastruktur
47 node — 9 dependensi tersembunyi ditemukan
Tiga window malam berturut-turut. Setiap fase memiliki abort criteria tertulis yang diverifikasi sebelum cutover dimulai.
Dependency mapping fase awal menemukan ketergantungan tak terdokumentasi yang tidak terdeteksi oleh audit vendor sebelumnya.
Delta biaya dihitung dari tagihan aktual bulan pertama pasca-migrasi versus rata-rata 12 bulan sebelumnya.
Proyek selesai saat Anda pegang kendalinya
Setiap deployment berakhir dengan runbook tertulis, monitoring dashboard yang Anda kelola, dan dokumentasi on-call handoff—bukan ketergantungan baru pada kami.
